Anotasi: Learning Styles (Gaya Belajar)

Anotasi <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { color: #0000ff } –>

Dianotasi oleh Imam Mawardi Rz dariberbadgai artikel

S.D Burke, D.(2002). Helping Middle School Science Students Relate to New Concepts Physical Modeling: A Bodily-Kinesthetic Approach. [Online]. Tersedia: www.ed.psu.edu/CI/Journals/2002aets/s5_burke.rtf [21 Oktober 2008]

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang berusaha untuk menjawab persoalan pembelajaran, yaitu bagaimana cara memasukkan modeling physical menjadi teknik pembelajaran, dan bagaimana penggunaan psysical modeling dapat meningkatkan kenyamanan siswa belajar ilmu pengetahuan dengan topik-topik yang lebih kompleks.

Pengajaran dengan memperhatikan gaya belajar dan multiple inteligence dapat menghidupkan suasana kelas. Salah satu model dalam teknik mengajar yaitu physical modeling, dimana model ini dapat meningkatkan kemampuan untuk mendidik para siswa dari bermacam-macam pilihan gaya belajar. Apalagi, penggabungan teknik pengajaran bodilykinesthetic dalam belajar siswa dengan berbagai macam gaya belajar dapat memperkuat kemampuan mereka di area belajar. Penggabungan dari physical modeling pada teknik pembelajaran dapat membantu guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam menjelaskan topik-topik yang kompleks dalam sebuah variasi metodologi. Para siswa dapat menggunakan aktifitas psysical modeling mereka sebagai bagian dari proses pendidikan.

Berdasarkan hasil studi ini, penggabungan jenis multiple intelligence dan gaya belajar dengan pendekatan bodily-kinesthetic siswa memiliki kekuatan yang baik dalam proses belajar siswa, penggabungan dari model ini tidak mempunyai suatu efek negatif atas kenyamanan mereka dalam belajar.

Kerby, S. (2005). Online Education and The Global Context. [Online]. Tersedia: www.stevekerby.com/portfolio/papers/623_skerby_01.rtf [22 Oktober 2008]

Kecenderungan globalisasi yang tinggi dalam pendidikan mempunyai implikasi jauh melebihi kedatangan pasar baru. Dalam rangka untuk pengajaran yang akan disampaikan secara efektif, kebijakan pendidikan harus mempertimbangkan masalah akses, akreditasi, dan dukungan; dan dalam rangka perencanaan kurikulum secara efektif, pengelola pendidikan harus mempertimbangkan isu-isu budaya , gaya belajar, dan kemandirian siswa.

Ada segunung bukti bahwa kelompok budaya tertentu memiliki gaya belajar yang berbeda preferensi (Sanches dan Gunawardena, 1998). Tetapi tanpa memperhitungkan budaya, ras, jenis kelamin, atau umur, adalah bukti adanya siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda (lihat khususnya Nasional Penelitian Council laporan, 2000), dan mutlak disimpulkan bahwa siswa secara umum memerlukan desain pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar mereka yang berbeda.

Artikel ini mengupas bagaimana menghadapi globalisasi dengan online education, yang memerlukan akses dan dukungan yang nyata dari masyarakat global. Isu-isu inilah yang perlu dicermati oleh pembuat kebijakan dengan desain kurikulum yang mampu mengapresiasi kebutuhan belajar siswa dan gaya belajarnya pada situasi pendidikan.

Musa, A. dan Wood, J.R.G, (2003). Online Learning and Learning Styles. [Online]. Tersedia: http://www.edu.salford.ac.uk/her/ [22 Oktober 2008]

Artikel ini menyajikan suatu tinjauan pustaka yang merupakan bagian dari riset program Ph.D yang berupa tata cara untuk meningkatkan rancangan Online Learning Systems untuk kemajuan belajar siswa. Fokus dari isi artikel adalah pada masalah dan gaya belajar investigasi bagaimana mereka dapat diterapkan lebih baik untuk merancang aturan sistem pembelajaran menurut preferensi para peserta didik. Dua metode pembelajaran (Learning Style 4MAT model dan Problem Base Learning) akan dievaluasi dalam rancangan program pembelajaran yang disajikan secara online.

Dalam artikel ini gaya pembelajaran diartikan sebagai kecenderungan untuk mengadopsi suatu strategi dalam belajar. Sebagian besar siswa memiliki pilihan gaya belajar tetapi dalam beberapa hal memungkinkan cara belajar mereka dapat menyesuaikan menurut tugas yang diberikan kepada mereka.

Artikel dari hasil penelitian ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang jelas dari sifat teknologi yang digunakan sebagai alat belajar di perguruan tinggi, dan untuk menyediakan analisis dampaknya terhadap pembelajaran mahasiswa. Penelitian ini telah didirikan untuk menguji efektivitas kombinasi dari teori belajar (gaya belajar model 4MAT dan Problem-Based Learning) yang berbasis di Web. Pembelajaran dilakukan untuk mengetahui bagaimana siswa akan bereaksi dari hasil pelajaran yang diperolehnya, dan untuk memberikan panduan yang jelas bagaimana untuk melaksanakan sistem pedagogis dalam belajar berdasarkan teori Online Learning yang sifatnya adalah untuk meningkatkan pengalaman siswa dalam lingkungan belajar khusus ini.


Felder, RM dan Silverman, LK. (1988). Learning and Teaching Styles in Engineering Education. Dalam Engr. Education [Online].Vol 78(7),10 halaman. Tersedia: http://www4.ncsu.edu/unity/lockers/users/f/felder/public/Papers/LS-1988.pdf [22 Oktober 2008]

Artikel ini membahas tentang aspek gaya belajar khususnya yang signifikan dalam rekayasa pendidikan, dimana dimensi gaya belajar yang terstruktur dalam pendidikan melibatkan proses penerimaan dan proses informasi. Pada langkah penerimaan , informasi eksternal (dilihat melalui indera) dan informasi internal (timbul melalui instropeksi) dari siswa. Langkah pengolahan melibatkan pemikiran induktif atau deduktif, refleksi atau tindakan, dan introspeksi atau interaksi dengan orang lain. Sebuah gaya belajar model classifies yang berkenaan dengan cara mereka menerima dan memproses informasi yang ditujukan untuk pendidikan adalah rekayasa model gaya mengajar, yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa.

Dimensi yang digambarkan tentang perbedaan antara dimensi belajar dan mengajar adalah sebagai berikut:


Perlu diketahui bahwa gaya belajar dari para mahasiswa teknik siswa dan gaya mengajar professor teknik adalah bertentangan dalam beberapa dimensi. Banyak dari mahasiswa teknik adalah visual, sensing, induktif, dan aktif, dan sebagian dari para siswa yang yang paling kreatif adalah global; hampir mahasiswa yang suka keteknikan adalah auditory, abstrak ( intuitif), deduktif, pasif, dan sequential. Ketidaksepadan ini mendorong kearah siswa yang miskin performanya, frustrasi, dan ini merupakan suatu kerugian masyarakat dari banyak insinyur yang berpotensi sempurna.

Thoms, KD. (2006). “Online Learning: Through the Eyes of a Student”. Presented atMid-South Instructional Technology ConferenceEleventh Annual Conference“Fostering Successful Learning”Middle Tennessee State University Murfreesboro, Tennessee April 2-4, 2006 [Online]. Tersedia: http://www.mtsu.edu/~itconf [22 Oktober 2008]

Artikel ini membahas isu-isu seputar pengalaman siswa yang mengambil kursus secara online. Belajar secara online adalah merupakan salah satu cara yang dilakukan siswa untuk mengambil kelas dan menyelesaikan gelar sarjana. Meskipun terkesan mewah bagi sebagian siswa, tetapi sebagian siswa yang lain menganggap sebagai pilihan. Siswa pasti memiliki ide tentang apa yang harus disertakan dalam kursus secara online dan bagaimana program ini harus terstruktur, dikelola, dan difasilitasi.

Siswa menghadapi masalah online, tetapi tidak terbatas pada:

  • Characteristics of an online learner

  • Equipment requirements

  • Organizational skills

  • Time management skills

  • Learning styles

  • Differences between face-to-face and online courses

  • Homework assignments

  • Motivation

  • Cultural issues

  • Flexibility

  • Due dates

Fakultas bertanggung jawab untuk memfasilitasi dan memberikan kursus secara online, tetapi tidak terbatas pada:

  • Technology support

  • Formats for instructional materials

  • Feedback

  • Motivation

  • Reinforcement

  • Content

  • Time constraints

  • Quizzes and tests

Artikel ini dalam pembahasannya melihat pelajar melalui perspektif mata siswa secara online sepenuhnya, tidak suplemen atau campuran. Presentasi ini akan melihat apa yang terjadi dengan baik, tetapi lebih penting lagi apa yang menyebabkan masalah; dijalankan dengan pengalaman yang aktual dan termasuk isi dari literatur di lapangan dan diskusi dengan siswa online lainnya. Presentasi ini juga akan melihat peran instruktur dalam memfasilitasi kursus online dan meringankan masalah-masalah potensial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: